ELEMEN-ELEMEN BAIT SUCI

ELEMEN-ELEMEN BAIT SUCI

 (Tabut Perjanjian, Mezbah Dupa)


Tabut Perjanjian

Tabut Perjanjian pertama kali dibuat oleh bangsa Israel
atas perintah Tuhan kepada Musa saat berkemah di Gunung Sinai. Dikerjakan oleh Bezaleel, peti suci ini terbuat dari kayu akasia berlapis emas, berfungsi menyimpan loh batu Sepuluh Perintah Allah. Tabut ini menjadi simbol kehadiran Tuhan dan pusat ibadah dalam Tabernakel. 
Berikut detail sejarah awal pembuatan Tabut Perjanjian: 
  • Perintah dan Waktu: Dibuat setelah Musa menerima perintah di Gunung Sinai, tak lama setelah keluarnya bangsa Israel dari Mesir.
  • Pembuat: Bezaleel dari suku Yehuda, dengan bimbingan ilahi, memimpin pengerjaannya.
  • Bahan dan Bentuk: Peti berbentuk kotak berukuran
    2122 and one-half
    hasta panjang,
    1121 and one-half
    hasta lebar, dan
    1121 and one-half
    hasta tinggi, dibuat dari kayu akasia, dilapisi emas murni luar-dalam, dan memiliki tutup emas berhias dua kerub.
  • Isi: Tabut ini dirancang untuk menyimpan loh hukum (Sepuluh Perintah Allah), tongkat Harun, dan buli-buli berisi manna.
  • Fungsi: Tempat suci di mana Tuhan berjanji menemui Musa dan berbicara kepada bangsa Israel. 

Setelah selesai, tabut ini ditempatkan di ruang paling dalam dari Tabernakel. 

Tabut Perjanjian (Ark of the Covenant) adalah peti suci berbahan kayu akasia berlapis emas yang dibuat Musa atas perintah Allah, berfungsi sebagai simbol kehadiran-Nya dan tempat menyimpan loh batu Sepuluh Perintah Allah. Tabut ini menjadi pusat penyembahan di ruang Mahakudus, ditempatkan di Kemah Suci, dan kemudian di Bait Suci Salomo sebelum menghilang setelah kejatuhan Yerusalem. 

Fakta Utama Tabut Perjanjian:
  • Isi: Dua loh batu Sepuluh Perintah, buli-buli berisi manna, dan tongkat Harun.
  • Struktur: Memiliki "Tutup Pendamaian" (Mercy Seat) berhiaskan dua kerubim emas di atasnya, tempat diyakini Allah hadir.
  • Fungsi: Simbol kehadiran Tuhan, penuntun bangsa Israel, dan tempat penebusan dosa oleh imam besar.
  • Sejarah: Dibuat di padang gurun, sempat dirampas Filistin, dan dipindahkan ke Yerusalem oleh Daud.
  • Penanganan: Hanya boleh dipikul oleh suku Lewi; menyentuhnya bisa mengakibatkan kematian, seperti kisah Uza. 
Tabut ini dianggap hilang setelah Raja Bukatnezar menghancurkan Bait Allah, dan hingga kini keberadaannya menjadi misteri besar. 

Klaim bahwa Tabut Perjanjian telah ditemukan di bawah tempat penyaliban Yesus di Golgota tidak diakui secara ilmiah, arkeologis, maupun akademis. 
Klaim tersebut berasal dari seorang individu bernama Ron Wyatt (1933–1999), seorang perawat anestesi yang bertindak sebagai arkeolog amatir, bukan arkeolog profesional. 
Berikut adalah fakta-fakta terkait klaim tersebut:
  • Klaim Ron Wyatt: Pada tahun 1980-an, Ron Wyatt mengklaim menemukan Tabut Perjanjian di dalam sebuah gua di bawah Golgota. Ia menyatakan bahwa darah Yesus menetes melalui retakan batu akibat gempa bumi saat penyaliban, lalu mengenai tutup pendamaian tabut tersebut.
  • Kurangnya Bukti: Wyatt tidak pernah menunjukkan bukti fisik, foto yang jelas, atau hasil tes DNA yang diverifikasi oleh komunitas ilmiah atau arkeolog profesional.
  • Penolakan Ahli: Komunitas arkeologi biblika dan ahli sejarah menganggap klaim Wyatt sebagai pseudo-archaeology (arkeologi palsu) dan hoax. Pihak berwenang di Yerusalem (IAA) dan pengelola Garden Tomb juga membantah temuan tersebut.
  • Status Resmi: Tabut Perjanjian secara resmi dianggap hilang atau musnah setelah penghancuran Bait Allah oleh Babilonia pada tahun 586 SM. 
Oleh karena itu, narasi bahwa Tabut Perjanjian sudah ditemukan di bawah salib Yesus hanyalah klaim sepihak yang tidak didukung bukti autentik dan tidak diakui oleh dunia arkeologi, meskipun cerita ini populer di beberapa kalangan tertentu.
Wajar hilangnya tabut perjanjian di zaman penghancuran bait suci oleh Nebukadnesar, dan setelah melewati masa sunyi 400-500 tahun maka Yesus Kristus lahir ke dunia sebagai wujud inkarnasi Allah, sehingga tidak diperlukan lagi tabut perjanjian itu sebab kehadiran Allah di tengah tengah manusia umatNya ada dalam diri Yesus, bukan lagi dalam lambang tabut perjanjian
Pernyataan ini secara teologis kristiani dianggap benar dan wajar berdasarkan kronologi sejarah alkitabiah dan pemenuhan nubuat. Hilangnya Tabut Perjanjian bukanlah sebuah kebetulan, melainkan transisi dari lambang fisik menuju kehadiran nyata Allah dalam diri Yesus Kristus.
Berikut adalah uraian berdasarkan poin-poin yang Anda sebutkan:
1. Hilangnya Tabut Perjanjian pada Zaman Nebukadnezar (Wajar)
  • Fakta Sejarah: Tabut Perjanjian terakhir disebutkan secara eksplisit dalam 2 Tawarikh 35:3. Setelah Bait Suci Salomo dihancurkan oleh Nebukadnezar dari Babel pada sekitar tahun 586 SM, tabut tersebut tidak pernah lagi tercatat dalam sejarah, baik saat pengasingan maupun ketika Bait Suci kedua dibangun.
  • Wajar/Misteri: Banyak teori mengatakan tabut itu dijarah, dihancurkan, atau disembunyikan oleh orang Israel. Hilangnya benda paling kudus ini menandai berakhirnya era di mana kehadiran Allah terbatas pada satu tempat dan benda fisik. 
2. Masa Sunyi 400-500 Tahun
  • Setelah zaman Nabi Maleakhi, Israel memasuki periode intertestamental, di mana tidak ada nabi atau pewahyuan baru selama kurang lebih 400 tahun.
  • Ini sering disebut "masa sunyi" atau "masa penantian", di mana Allah tidak berfirman secara langsung, seolah-olah tabut (simbol kehadiran-Nya) benar-benar hilang dari tengah-tengah mereka. 
3. Yesus sebagai Wujud Inkarnasi (Penggenapan)
  • Yesus adalah Tabut Baru: Dalam Perjanjian Baru, kehadiran Allah tidak lagi lambang (peti kayu berlapis emas), melainkan nyata dalam manusia (inkarnasi). Yesus adalah "Immanuel" (Allah menyertai kita).
  • Tabernakel (Kemah Suci) yang Hidup: Yesus menyebut diri-Nya bait Allah yang sejati. Ia hadir di tengah manusia, bukan lagi di ruang Maha Kudus yang tersembunyi.
  • Isi Tabut Tergenapi: Jika tabut lama berisi loh batu hukum Musa, Yesus membawa hukum kasih yang tertulis dalam hati manusia melalui Roh Kudus. 
4. Tidak Diperlukan Lagi Tabut Fisik
  • Kematian dan kebangkitan Yesus meruntuhkan tirai pemisah (penghalang antara Allah dan manusia), sehingga kehadiran Allah dapat diakses langsung oleh umat-Nya tanpa perantara tabut fisik.
  • Yesus adalah pemenuhan akhir dari semua simbol Perjanjian Lama. Kehadiran Allah kini ada dalam diri Yesus dan melalui Roh Kudus yang diam di dalam orang percaya. 
Kesimpulan:
Hilangnya tabut pada zaman Babel adalah tanda berakhirnya Perjanjian Lama yang bersifat bayangan. Masa 400 tahun sunyi menjadi penutup era tersebut, dan kelahiran Yesus adalah inkarnasi—hadirnya Allah secara nyata, membuat tabut fisik tidak diperlukan lagi karena Allah sendiri hadir langsung di tengah manusia. 
Energi Api Listrik
Konsep "energi api listrik" pada Tabut Perjanjian adalah topik yang menjembatani catatan alkitabiah (supranatural) dengan interpretasi teknis atau teoretis (hipotesis kapasitor). Secara Alkitabiah, fenomena api/cahaya yang keluar dari Tabut dianggap sebagai manifestasi kemuliaan Allah (Shekinah), sementara interpretasi teknik berpendapat bahwa konstruksi Tabut memungkinkan penyimpanan muatan listrik statis dalam jumlah besar. 
Berikut adalah poin-poin penting mengenai energi/api pada Tabut Perjanjian:
1. Penjelasan Alkitabiah (Supranatural)
  • Manifestasi Kemuliaan Allah: Tabut melambangkan kehadiran Tuhan. Api atau cahaya yang sering terlihat di atasnya (di antara dua kerub emas di tutup pendamaian) dianggap sebagai tanda kehadiran ilahi, bukan energi fisik.
  • Kematian Nadab dan Abihu: Dua anak Harun tewas karena mempersembahkan "api asing" yang tidak diperintahkan, yang mengakibatkan api keluar dari hadirat Tuhan dan menghanguskan mereka (Imamat 10:2).
  • Kekuatan Dahsyat: Tabut digambarkan memiliki kekuatan untuk membelah Sungai Yordan dan meruntuhkan tembok Yerikho. 
2. Interpretasi Teknik (Teori Kapasitor/Listrik Statis)
Beberapa ahli (seperti Nicola Tesla yang pernah menyebut Musa sebagai "ahli listrik") dan peneliti teoretis berpendapat bahwa konstruksi Tabut Perjanjian mirip dengan kapasitor listrik raksasa: 
  • Konstruksi: Tabut terbuat dari kayu akasia (isolator yang baik) yang dilapisi emas di dalam dan di luar (konduktor), membentuk struktur Leyden Jar atau kapasitor pelat paralel.
  • Muatan Listrik: Gesekan yang terjadi selama pengangkutan (terutama di gurun yang kering) dapat menghasilkan listrik statis yang tersimpan di dalam emas-kayu-emas.
  • Tutup Pendamaian: Dua kerub emas di atas tutup pendamaian berfungsi sebagai terminal positif dan negatif.
  • Bahaya Menyentuh: Kematian Uza saat menyentuh Tabut (2 Samuel 6:6-7) ditafsirkan sebagai pelepasan muatan listrik (listrik statis) yang sangat tinggi ke tanah melalui manusia. 
3. Aturan Keamanan (Protokol Keselamatan)
  • Instruksi pembuatan Tabut yang spesifik (penggunaan kayu akasia, lapisan emas, tiang pengangkut) sering dianggap sebagai cara untuk memindahkan perangkat tersebut dengan aman tanpa menyentuhnya langsung (menghindari kejutan listrik). 
4. Kesimpulan Teologis dan Historis
  • Secara teologis, Tabut adalah benda kudus yang melambangkan perjanjian Tuhan, bukan sekadar perangkat energi.
  • Sementara penjelasan teknis menawarkan perspektif menarik, tradisi iman tetap memandangnya sebagai manifestasi kuasa supernatural Allah. 
Tidak ada catatan historis, arkeologis, maupun alkitabiah yang secara spesifik menyebutkan voltase atau tegangan listrik pada Tabut Perjanjian. Energi yang muncul di atas Tabut Perjanjian (di antara kedua kerub) dalam narasi Alkitab digambarkan sebagai manifestasi kehadiran Tuhan (Shechinah), seringkali berupa awan atau api. 
Berikut adalah beberapa interpretasi mengenai energi api tersebut berdasarkan studi teoritis dan literatur populer:
  • Teori Kapasitor Listrik: Sebagian teori, seperti yang diusulkan oleh Nicola Tesla dan pendukung teori "Ark as a Battery", berspekulasi bahwa konstruksi Tabut (kayu akasia sebagai isolator diapit oleh emas sebagai konduktor) menyerupai Leyden jar raksasa—sebuah kapasitor listrik kuno.
  • Listrik Statis: Teori ini berpendapat bahwa gesekan kain penutup dan lingkungan gurun yang kering dapat menghasilkan listrik statis yang tersimpan dalam Tabut.
  • Tegangan Tinggi: Beberapa spekulasi teknis menyamakan energi ini dengan high voltage discharge (pelepasan tegangan tinggi) yang sangat berbahaya dan dapat membunuh, yang menjelaskan mengapa sentuhan langsung ke Tabut mengakibatkan kematian, seperti dalam kisah Uza. Namun, tidak ada angka voltase pasti yang dapat diukur.
  • Perspektif Teologis: Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, energi api tersebut adalah supernatural, api suci (Holy Fire), dan bukan listrik fisik yang diukur dengan satuan volt. 
Singkatnya, voltase api Tabut Perjanjian tidak diketahui dan dianggap sebagai fenomena supranatural/suci dalam konteks iman, atau spekulasi teoretis sebagai listrik statis voltase tinggi dalam teori arkeologi spekulatif. 
Dua Loh Batu
Dua loh batu dalam Tabut Perjanjian berisi Sepuluh Perintah Allah (Dasatitah) yang ditulis langsung oleh Allah, melambangkan perjanjian suci antara Tuhan dan bangsa Israel. Loh-loh ini diserahkan kepada Musa di Gunung Sinai (Keluaran 31:18) dan diletakkan sebagai bukti hukum serta pusat kehidupan umat-Nya. 
Detail Penting Mengenai Dua Loh Batu:
  • Isi: Sepuluh Perintah Allah, yang merupakan dasar hukum dan etika umat Allah.
  • Pembuat: Loh pertama dihancurkan oleh Musa (Keluaran 32:19), dan Allah menyuruh Musa memahat dua loh batu baru (Keluaran 34:1).
  • Penyimpanan: Loh-loh batu tersebut ditempatkan di dalam Tabut Perjanjian (Ulangan 10:1-5).
  • Makna: Mewakili hubungan intim antara Allah dan umat-Nya; satu loh diperuntukkan bagi Allah, dan yang lain untuk Israel.
  • Isi Lain Tabut: Selain loh batu, tabut juga berisi gulungan kitab Taurat, satu buli-buli emas berisi manna, dan tongkat Harun yang bertunas. 
Dua loh batu ini sering kali disebut sebagai "loh-loh perjanjian" dan menjadi penanda penting kekudusan Tuhan di tengah-tengah bangsa Israel. 
Tongkat Harun
Tongkat Harun yang bertunas disimpan di dalam Tabut Perjanjian sebagai tanda peringatan ilahi terhadap orang-orang yang memberontak (Bilangan 17:10). Tongkat ini bertunas, berbunga, dan menghasilkan buah badam secara ajaib, menegaskan bahwa Harun dipilih Tuhan sebagai imam besar. Benda ini melambangkan otoritas Allah dan kehidupan baru. 
Berikut adalah poin-poin kunci terkait tongkat Harun di dalam tabut:
  • Tujuan Penyimpanan: Tongkat ini diletakkan di hadapan tabut (kemudian di dalam) sebagai peringatan bagi orang-orang durhaka agar sungut-sungut mereka berhenti dan tidak mati.
  • Keajaiban: Tongkat dari suku Lewi ini bertunas, berbunga, dan menghasilkan buah badam semalam, membuktikan pilihan Allah.
  • Isi Tabut: Menurut Ibrani 9:4, tabut tersebut berisi tiga benda: loh batu (10 Perintah Allah), buli-buli emas berisi manna, dan tongkat Harun yang bertunas.
  • Simbolisme: Tongkat ini melambangkan kuasa Allah, otoritas imam, dan kehidupan baru, yang sering dikaitkan dengan Yesus Kristus sebagai Imam Besar. 
Menurut tradisi, tongkat ini disimpan bersama tabut perjanjian di Ruang Maha Kudus dalam Tabut Perjanjian. 
Allah memerintahkan agar tongkat Harun ditaruh di dalam/depan tabut perjanjian (Bilangan 17:10) sebagai tanda peringatan bagi orang-orang durhaka, setelah tongkat tersebut secara ajaib bertunas, berbunga, dan menghasilkan buah badam. Peristiwa ini terjadi di padang gurun untuk menegaskan keimaman Harun dan menghentikan keluhan bangsa Israel terhadap Musa. 
Konteks Sejarah dan Perintah:
  • Pemberontakan: Bangsa Israel memberontak terhadap kepemimpinan Musa dan Harun, terutama mempertanyakan otoritas imam Harun.
  • Tanda Ajaib: Allah menyuruh pemimpin dari 12 suku meletakkan tongkat mereka di kemah pertemuan. Keesokan harinya, hanya tongkat Harun (suku Lewi) yang bertunas dan berbuah, membuktikan pilihan Tuhan.
  • Tujuan Penyimpanan: Tongkat itu disimpan di dalam atau di depan Tabut Perjanjian sebagai tanda permanen untuk melawan para pemberontak agar keluhan mereka berhenti.
  • Isi Tabut: Menurut Ibrani 9:4, Tabut Perjanjian berisi loh batu sepuluh perintah, buli-buli berisi manna, dan tongkat Harun yang bertunas tersebut. 
Manna
Manna, dalam tradisi Abrahamik, adalah makanan surgawi berwarna putih yang rasanya manis seperti madu, diturunkan setiap pagi untuk menopang bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun. 
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Manna:
  • Konteks Alkitab/Agama:
    • Asal dan Bentuk: Manna turun dari langit setiap fajar, berbentuk seperti biji kecil, tipis seperti serpihan, dan berwarna putih.
    • Sifat: Berbentuk seperti lilin, rasanya manis seperti madu, dan sering digambarkan sebagai roti dari surga.
    • Keunikan: Manna tidak bisa disimpan lebih dari satu hari (kecuali hari Sabat) karena akan busuk dan berulat, serta mencair saat matahari terik.
    • Penyebutan: Nama "Manna" berasal dari pertanyaan bangsa Israel, "Apa ini?" (Man hu?).
  • Dalam narasi keagamaan, manna simbol berkat Tuhan yang turun tepat waktu setiap hari, mengajarkan kebergantungan dan iman. 
Allah memerintahkan Musa menaruh manna di dalam tabut perjanjian sebagai peringatan turun-temurun akan pemeliharaan-Nya di padang gurun. Perintah ini pertama kali diberikan dalam Keluaran 16:33-34, di mana Allah menyuruh Musa mengambil satu gomer manna, menaruhnya dalam bejana emas, dan menyimpannya di hadapan kesaksian. 
Berikut adalah poin penting terkait manna di dalam tabut perjanjian:
  • Tujuan utama: Sebagai pengingat bagi generasi Israel mendatang tentang roti yang disediakan Allah selama 40 tahun pengembaraan di padang gurun.
  • Wadah: Manna diletakkan di dalam "buli-buli emas" atau "bejana emas".
  • Isi Tabut: Ibrani 9:4 menegaskan bahwa di dalam Tabut Perjanjian terdapat bejana emas berisi manna, tongkat Harun yang bertunas, dan loh-loh batu perjanjian.
  • Lokasi: Benda-benda tersebut disimpan di dalam Tabut yang diletakkan di dalam Ruang Mahakudus di Kemah Suci. 
Peristiwa ini terjadi setelah bangsa Israel keluar dari Mesir dan menerima pemeliharaan ilahi berupa manna setiap hari, kecuali hari Sabat. 
Mezbah Dupa
Mezbah dupa adalah altar emas khusus yang disebutkan dalam Alkitab, tempat dupa harum dibakar setiap pagi dan sore di Tabernakel, melambangkan doa-doa umat yang naik ke hadirat Allah
. Mezbah ini terbuat dari kayu akasia yang dilapisi emas, berukuran 44,5 x 44,5 cm, tinggi 89 cm, memiliki tanduk di sudutnya, dan terletak di Ruang Kudus, tepat di depan tirai menuju Ruang Mahakudus
. Fungsinya adalah sebagai simbol doa yang terus-menerus, perantaraan Kristus, dan jalan untuk mendekati kekudusan Tuhan
.
 
Fitur dan Lokasi
  • Bahan: Kayu akasia berlapis emas.
  • Ukuran: 44,5 cm (lebar) x 44,5 cm (panjang) x 89 cm (tinggi).
  • Detail: Dilengkapi pinggiran emas dan tanduk di keempat sudutnya.
  • Penempatan: Di dalam Tabernakel, di depan tirai Ruang Mahakudus, di depan Tabut Kesaksian. 
Penggunaan dan Makna
  • Pembakaran Dupa: Dupa khusus dibakar setiap pagi (saat membersihkan pelita) dan senja (saat menyalakan pelita) oleh Harun atau imam.
  • Simbol Doa: Asap dupa yang harum melambangkan doa dan permohonan umat yang naik ke hadapan Tuhan.
  • Simbol Perantaraan: Menunjukkan peran perantaraan Yesus sebagai Imam Besar, yang menjadikan doa orang percaya harum bagi Tuhan.
  • Kekudusan: Menegaskan pentingnya kemurnian, kekudusan, dan ibadah yang teratur. 
Perintah pertama Allah agar dibuatkan mezbah dupa tercantum dalam Kitab Keluaran pasal 30, saat Allah memberikan petunjuk kepada Musa mengenai perabot Kemah Suci (Tabernakel) di Gunung Sinai. 
Berikut adalah sejarah dan detail perintah tersebut:
  • Konteks Waktu & Tempat: Perintah ini diberikan setelah Musa diperintahkan membuat Tabut Perjanjian, meja roti sajian, dan kaki dian. Ini adalah bagian dari instruksi komprehensif Allah mengenai ibadah bangsa Israel setelah keluar dari Mesir.
  • Bahan & Bentuk: Mezbah dupa harus dibuat dari kayu penaga (akasia) yang dilapisi emas murni (karena itu sering disebut "Mezbah Emas" atau "Mezbah Ukupan"). Ukurannya persegi empat, dengan panjang dan lebar satu hasta, dan tingginya dua hasta, serta memiliki tanduk-tanduk di keempat sudutnya.
  • Posisi: Mezbah ini ditempatkan di dalam Ruang Kudus, tepat di depan tirai yang menutupi Tabut Perjanjian (Ruang Maha Kudus).
  • Fungsi & Pelaksanaan: Harun diperintahkan untuk membakar dupa yang harum di atas mezbah tersebut setiap pagi dan petang, menjadikannya persembahan terus-menerus di hadapan Allah. Dupa yang digunakan haruslah racikan khusus yang kudus dan tidak boleh digunakan untuk keperluan pribadi.
  • Makna: Mezbah dupa melambangkan doa-doa umat Allah yang naik ke hadapan-Nya, seperti yang disimbolkan dalam Wahyu 8:4. 
Berbeda dengan mezbah korban bakaran yang berada di pelataran luar, mezbah dupa ini khusus untuk membakar dupa wangi. 
Dupa Wangi Pada Mezbah Dupa Untuk Ibadah
Bahan harum untuk dupa wangi pada mezbah dupa, khususnya dalam tradisi Alkitabiah (seperti yang diperintahkan dalam Keluaran 30:34-38), terdiri dari campuran bahan-bahan alami yang dikhususkan dan murni. 
Berikut adalah bahan-bahan utama berdasarkan Keluaran 30:34:
  • Stakte (Stacte/Getah Manis): Aroma harum yang berasal dari getah pohon Storax.
  • Onycha: Bahan harum yang diyakini berasal dari cangkang moluska (shellfish) tertentu dari Laut Merah.
  • Galbanum: Getah atau damar dari tanaman/semak, yang menghasilkan aroma balsam.
  • Kemenyan Murni (Pure Frankincense): Damar harum yang berasal dari pohon Salai di Arabia.
  • Garam: Campuran ini harus dicampur dengan garam agar murni dan kudus (Keluaran 30:35). 
Karakteristik Dupa Mezbah:
  • Campuran Spesial: Dupa ini dibuat dengan keahlian khusus dan tidak boleh ditiru untuk pemakaian pribadi (Keluaran 30:37).
  • Fungsi: Digunakan setiap pagi dan malam di mezbah emas di Ruang Kudus, melambangkan doa yang naik ke hadapan Tuhan.
  • Bentuk: Keempat bahan tersebut ditumbuk halus (halus sekali) dan dibakar di atas bara api. 
Dalam konteks modern atau tradisi lain, dupa wangi juga sering menggunakan bahan dasar alami seperti kayu gaharu (oud), cendana (sandalwood), dan getah kemenyan. 




Comments

Popular posts from this blog

Visualisasi Bait Suci (Bait Allah) Ke-3 Dan Mesianik Di Jerusalem

Semangat Roh Kenabian Elia Mengkristalisasi Pada Dua Saksi Terakhir

MEMBANGUN RUMAH BERSIFAT ROHANI DI LAHAN SEMPIT