BISNIS DALAM KERAJAAN ALLAH (Bagian 4)
BISNIS DALAM KERAJAAN ALLAH
(Bagian 4)
3. Kesiapan (siap sedia) dalam menyambut kedatangan Yesus Kristus menghasilkan Urgency, bukan kecemasan, Kesiapan menghasilkan Produktivitas, bukan Ketakutan.
Pernyataan bahwa kesiapan menyambut kedatangan Yesus Kristus menghasilkan urgensi bukan kecemasan, dan produktivitas bukan ketakutan dalam bisnis kerajaan Allah adalah prinsip alkitabiah yang mendalam. Ini mengubah paradigma berbisnis dari sekadar mencari keuntungan menjadi sarana ibadah dan penatalayanan (stewardship).
Berikut adalah penjabaran dari prinsip tersebut berdasarkan perspektif Kerajaan Allah:
1. Urgency, Bukan Kecemasan (Kesiapan)
Kesiapan (siap sedia) tidak membuat pengusaha Kristen panik atau cemas (takut akan masa depan), melainkan mendorong rasa urgensi untuk memaksimalkan waktu yang ada.
- Urgensi (Proaktif): Sadar bahwa waktu terbatas, pelaku bisnis didorong untuk melakukan pekerjaan dengan cepat, efisien, dan berdampak kekekalan. Ini seperti perumpamaan hamba yang setia yang mengelola talenta dengan giat.
- Bukan Kecemasan (Damai): Kesiapan berakar pada iman bahwa Tuhan memelihara. Kesiapan menyambut Raja membuat seseorang fokus pada "mencari Kerajaan Allah dahulu," sehingga bebas dari kekhawatiran berlebihan akan masa depan.
2. Produktivitas, Bukan Ketakutan (Kesiapan)
Kesiapan membuat pelaku bisnis Kristen bekerja dengan penuh keberanian dan integritas, bukan ketakutan akan kegagalan atau kompetisi.
- Produktivitas (Buah): Kesiapan mendorong produktivitas yang sehat. Bisnis dijalankan untuk menghasilkan "buah" (dampak positif, pelayanan, dan keuntungan yang halal) untuk kemuliaan Allah. Ini adalah perwujudan dari "berbuah dan bertambah banyak".
- Bukan Ketakutan (Berani): Karena sadar bahwa bisnis adalah penatalayanan (mengelola milik Tuhan), pengusaha bekerja dengan integritas tanpa takut akan resiko duniawi, karena fokusnya adalah berkenan kepada Tuhan, bukan sekadar memenangkan kompetisi.
3. Esensi Bisnis Kerajaan Allah
- Berbuah, Lalu Berlipat Ganda: Prinsip Alkitab adalah menjadi produktif (fruitful) terlebih dahulu dengan apa yang ada, baru kemudian melipatgandakan (multiply).
- Kerja sebagai Ibadah: Bisnis dipandang sebagai sarana ibadah dan misi, bukan hanya bertahan hidup.
- Kejujuran dan Integritas: Mengandalkan kekuatan Tuhan dalam bisnis menghasilkan keputusan yang etis, bukan keputusan yang didasarkan pada ketakutan akan kerugian.
Singkatnya, kesiapan membuat pebisnis Kristen bekerja dengan damai (tanpa takut/cemas) namun giat (produktif/urgensi), karena tujuan utama mereka bukan sekadar menimbun harta, tetapi mempersembahkan hasil kelolaan yang terbaik saat Raja datang kembali.
Matius 24:45-47 (TB) "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.
Apa yang kita perbuat atau kerjakan di area/posisi/jabatan saat ini akan menentukan siapa kita di area/posisi/jabatan yang akan datang, bila Tuhan akan mempromosikan kita di jabatan baru yang lebih tinggi maka itu akan terjadi. Untuk itu kita harus bertanggung jawab atas apa yang Tuhan percayakan pada kita sekarang ini.
Dorongan Kerajaan membuat kita bekerja hari ini seolah olah Yesus Kristus datang besok, tetapi kita tetap membuat perencanaan seolah olah Dia datang 1000 tahun lagi.
Pernyataan ini merangkum sebuah keseimbangan teologis dan praktis dalam kehidupan seorang percaya, yang dikenal sebagai Kerajaan Allah Mindset (Kingdom Mindset) atau pola pikir Kerajaan Surga. Filosofi ini menggabungkan urgensi rohani dengan tanggung jawab duniawi.
Keseimbangan teologis dan praktis yang lainnya sering disebut sebagai hidup dalam "ketegangan antara sudah dan belum" (already and not yet) dalam Kerajaan Allah. Ini adalah prinsip urgensi dalam misi, tetapi hikmat dalam penatalayanan (stewardship) hidup di bumi.
Berikut adalah penjabaran dari dua kutipan tersebut:
1. Bekerja Seolah-olah Yesus Datang Besok (Urgensi dan Kesucian)
- Makna: Ini mengacu pada kesiapan rohani yang mendesak. Kita hidup dalam pertobatan yang mutlak, berintegritas, dan menyelesaikan tugas (pekerjaan/panggilan) dengan sepenuh hati karena waktu Tuhan tidak ada yang tahu. Ini juga menekankan pentingnya hidup dalam kekudusan, pertobatan, dan semangat penginjilan yang tinggi. Karena kedatangan Tuhan tidak diketahui waktunya, kita harus selalu siap sedia.
- Tujuan: Mencegah sikap "menunda-nunda" iman atau hidup suam-suam kuku. Fokusnya adalah kekekalan, di mana iman diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari.
- Tindakan: Menggunakan setiap kesempatan, waktu, dan talenta saat ini untuk memberitakan injil, melayani sesama, dan berbuat kasih, tanpa menunda-nunda.
- Motivasi: Kasih yang tulus kepada Tuhan dan sesama, bukan ketakutan akan penghakiman.
2. Merencanakan Seolah-olah Dia Datang 1000 Tahun Lagi (Visi Panjang, dan Hikmat & Penatalayanan)
Makna: Ini mengacu pada stewardship (penatalayanan) yang bertanggung jawab di bumi. Orang percaya tidak boleh fatalistik (menyerah pada keadaan) hanya karena menunggu akhir zaman. Sebaliknya, kita dipanggil untuk membangun, berinvestasi, dan merencanakan masa depan. Ini juga adalah bentuk tanggung jawab atas dunia yang Tuhan percayakan, membangun warisan (legacy) yang baik, dan tidak hidup dalam kepanikan yang menyebabkan kita mengabaikan kewajiban duniawi (malas/pasif).- Tujuan: Meninggalkan warisan (legacy) bagi generasi mendatang, memakmurkan bumi, dan menghadirkan dampak Kerajaan Surga secara jangka panjang.
- Tindakan: Membangun keluarga, menempuh pendidikan, bekerja, menabung, membangun infrastruktur gereja, dan merencanakan masa depan untuk generasi berikutnya.
- Konsep 1000 Tahun: Mengacu pada pandangan teologis tentang masa pemerintahan Kristus (milenium), yang mengajarkan bahwa pekerjaan kita untuk membangun peradaban yang sesuai kehendak Tuhan memiliki dampak jangka panjang.
Kesimpulan: Keseimbangan Hidup
"Dorongan Kerajaan" menciptakan manusia yang produktif dan berpengharapan. Kita tidak takut akan masa depan (karena tahu Yesus akan kembali/1000 tahun lagi), namun kita sangat bertanggung jawab atas masa kini (karena Yesus bisa datang besok).
"Dorongan Kerajaan" juga menciptakan manusia yang aktif secara rohani (siap bertemu Tuhan kapan saja) namun bertanggung jawab secara duniawi (membangun kehidupan dengan berhikmat). Kita tidak hidup dalam fatamorgana utopis yang mengabaikan tanggung jawab, melainkan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di bumi hari ini.
Ini adalah hidup yang bekerja keras untuk kemuliaan Tuhan (kerja keras sebagai ibadah) dan berencana matang untuk melanjutkan pekerjaan-Nya.
Di dalam kerajaan Allah, otoritas yang Tuhan berikan bagi kita adalah konsisten dan relevan dengan apa yang Tuhan percayakan kepada kita untuk memperluas dan memajukan Kerajaan Allah, untuk itu kita perlu: prioritas yang tegas (memprioritaskan dengan tegas apa yang sangat penting), legacy thinking (berpikir sesuai "warisan" yang berlaku), maximize your influence now (memaksimalkan pengaruh diri terhadap orang lain sekarang), dan invest in people (berinvestasi dalam kemanusiaan untuk memenangkan/memberdayakan banyak jiwa).
Pernyataan ini merangkum prinsip alkitabiah yang kuat tentang peran orang percaya sebagai pengelola otoritas Kerajaan Allah. Berikut adalah penjabaran dari empat hal yang perlu dilakukan:
- Prioritas yang Tegas (Prioritize with Purpose):
Mengutamakan Kerajaan Allah di atas segalanya, sebagaimana tertulis dalam Matius 6:33 ("Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya..."). Ini berarti tegas menetapkan Tuhan sebagai yang terutama, bukan kekhawatiran hidup, dan menggunakan sumber daya yang Tuhan percayakan (waktu, bakat, harta) untuk tujuan-Nya. - Legacy Thinking (Berpikir "Warisan"):
Hidup dengan kesadaran bahwa kita adalah ahli waris Kerajaan Allah yang dipanggil untuk membawa dampak abadi. Ini melibatkan tindakan, nilai-nilai, dan gaya hidup yang mencerminkan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita, yang akan tetap bernilai dan dikenang (menjadi warisan rohani) bahkan setelah kita tidak ada lagi. - Maximize Your Influence Now (Maksimalkan Pengaruh Sekarang):
Mengaktifkan otoritas yang Tuhan berikan saat ini juga, bukan nanti. Ini berarti menggunakan pengaruh kita di lingkungan kerja, keluarga, dan sosial untuk memuliakan Tuhan, mengelola apa yang dipercayakan-Nya, dan memperluas jangkauan Kerajaan-Nya di bumi melalui tindakan yang nyata. - Invest in People (Berinvestasi pada Kemanusiaan):
Memenangkan dan memberdayakan banyak jiwa (pemuridan). Ini adalah inti perluasan Kerajaan Allah—bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun manusia agar mereka hidup di bawah pemerintahan Kristus.
Dengan menerapkan keempat hal ini, kita berjalan sesuai dengan tujuan Raja di atas segala Raja, membawa dampak yang konsisten, dan relevan dengan perluasan Kerajaan Allah.
Kedatangan Yesus Kristus yang kali kedua akan mendisrupsi "seluruh sistem dunia". Setiap kerajaan yang manusia dirikan akan ditundukkanNya, setiap sistem akan dievaluasi, setiap pekerjaan akan diuji dengan api. Sedangkan yang akan bertahan dan ditanyakan adalah hanya satu hal ini: "Apa yang kamu lakukan dengan apa yang telah Aku (Tuhan) berikan kepadamu?".
Pernyataan ini selaras dengan pandangan eskatologi Kristen mengenai Penghakiman Terakhir dan Kedatangan Kedua Kristus (Parousia). Berikut adalah poin-poin teologis yang memperkuat pesan tersebut:
Disrupsi Kerajaan Dunia: Alkitab menyatakan bahwa pada akhirnya "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya" (Wahyu 11:15). Segala struktur kekuasaan manusia yang bersifat sementara akan digantikan oleh Kerajaan Allah yang kekal.
- Ujian Api: Konsep "pekerjaan yang diuji dengan api" merujuk pada 1 Korintus 3:13-15. Api tersebut melambangkan kemurnian motivasi; hanya apa yang dilakukan demi Tuhan dan dengan kasih yang akan bertahan, sementara yang dilakukan demi kemuliaan diri sendiri akan hangus.
- Pertanggungjawaban Talenta: Pertanyaan "Apa yang kamu lakukan dengan apa yang Aku berikan?" merujuk langsung pada Perumpamaan tentang Talenta (Matius 25:14-30). Tuhan tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi kesetiaan seseorang dalam mengelola sumber daya, waktu, dan karunia yang dipercayakan kepadanya.
- Evaluasi Total: Kedatangan-Nya bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan audit menyeluruh terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sistem dunia yang seringkali dibangun di atas ketidakadilan akan dievaluasi berdasarkan standar kebenaran ilahi.
Ini adalah pengingat bahwa hidup adalah sebuah penatalayanan (stewardship). Fokus utama manusia seharusnya bukanlah menumpuk pencapaian di sistem dunia yang akan lenyap, melainkan investasi dalam hal-hal yang bersifat kekal.
Model Bisnis Dalam Kerajaan Allah dengan 8 Tapi 9 Komponen
Pengembangan model bisnis dalam Kerajaan Allah melampaui paradigma sekuler yang hanya berfokus pada keuntungan (profit), melainkan mengintegrasikan prinsip alkitabiah untuk menghasilkan dampak (impact), transformasi, dan pemuliaan Tuhan.
Berikut adalah pengembangan model 6 komponen menjadi 8 komponen model bisnis dalam Kerajaan Allah yang lebih komprehensif:
- 1. Proposisi Nilai Berbasis Kerajaan (Kingdom Value Proposition)
Bisnis tidak hanya menjual produk/jasa, tetapi memberikan nilai yang memenuhi kebutuhan fisik dan spiritual pelanggan, mencerminkan kasih, keadilan, dan kebenaran. - 2. Kemitraan yang Membangun (Divine Partnerships/Stewardship)
Kemitraan tidak hanya dengan manusia (supplier/distributor), tetapi menjadikan Tuhan sebagai Mitra Utama (Divine Partner). Pengelolaan sumber daya dilakukan dengan prinsip penatalayanan (stewardship), bukan kepemilikan mutlak. - 3. (Baru) Visi Dampak Kekal (Eternal Impact/Legacy)
Fokus jangka panjang yang melampaui profit finansial, yaitu membangun warisan (legacy) yang mencerminkan Kerajaan Allah, mempersiapkan generasi penerus, dan mengutamakan kekekalan. - 4. Sumber Daya yang Dipimpin Roh (Spirit-Led Resources)
Mengelola aset, modal, dan bakat (talenta) dengan hikmat Tuhan, memastikan penggunaan sumber daya secara efisien dan etis. - 5. Formula Pendapatan yang Benar (Righteous Revenue Model)
Keuntungan diperoleh melalui cara yang etis (integritas) dan digunakan kembali untuk membiayai misi, pelayanan, dan kesejahteraan karyawan, bukan untuk keserakahan. - 6. (Baru) Dampak Komunitas & Lingkungan (Community & Environmental Impact)
- Bisnis berdampak positif bagi lingkungan sekitar (kesejahteraan sosial/shalom) dan menjaga keseimbangan alam, sebagai wujud tanggung jawab budaya.
- 7. Budaya Memuridkan & Mentransformasi (Kingdom Culture)
Perusahaan menjadi tempat pemuridan (discipleship), di mana karyawan dikembangkan potensinya, kepemimpinan melayani, dan nilai-nilai Alkitab diterapkan dalam operasional sehari-hari. - 8. Proses dengan Integritas (Integrity-Based Processes)
Prosedur operasional (SOP) yang jujur, transparan, dan adil. Keputusan bisnis diambil berdasarkan doa dan tuntunan Roh Kudus, bukan sekadar logika manusia.
Dengan 8 komponen ini, bisnis berfungsi sebagai "perpanjangan tangan" Tuhan di pasar (marketplace) untuk membawa dampak, mentransformasi budaya, dan memuliakan nama-Nya.
Pengembangan lebih lanjut dan yang terakhir, dimana Pengembangan model bisnis dalam Kerajaan Allah melampaui paradigma bisnis sekuler (yang fokus utamanya adalah maksimalisasi profit) dengan mengintegrasikan nilai-nilai alkitabiah yang berfokus pada dampak (impact), penatalayanan (stewardship), dan pemuliaan Tuhan.
Berdasarkan perluasan dari 6 komponen awal (Proposisi Nilai, Kemitraan Divine, Sumber Daya, Formula Pendapatan, Budaya, dan Proses), berikut adalah menjadi 9 komponen model bisnis Kerajaan Allah yang komprehensif dan spesial.
- 1. Proposisi Nilai Berbasis Kerajaan (Kingdom Value Proposition)
Fokus produk/layanan bukan hanya menyelesaikan masalah pelanggan, tetapi memberikan nilai yang mencerminkan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. Bisnis menciptakan nilai yang berdampak positif pada kehidupan manusia dan lingkungan. - 2. (Baru) Struktur & Tata Kelola yang Benar (Kingdom Governance & Structure)
Pengorganisasian usaha yang mencerminkan keadilan dan kebenaran, memastikan bahwa pemimpin bertanggung jawab kepada Tuhan dan berdampak positif bagi semua pihak. - 3. Kemitraan yang Membangun (Divine Partnerships)
Menjadikan Tuhan sebagai mitra utama (senior partner) dalam bisnis. Kemitraan ini mencakup hubungan yang adil, jujur, dan beretika dengan karyawan, pemasok, dan pelanggan, yang didasarkan pada kasih. - 4. Sumber Daya yang Ditata (Stewardship of Resources)
Mengelola talenta, waktu, modal, dan aset sebagai milik Tuhan yang dipercayakan, bukan milik pribadi. Fokus pada efisiensi dan penggunaan sumber daya untuk kemuliaan Allah. - 5. Formula Pendapatan & Berkat (Kingdom Revenue & Blessing Formula)
Pendapatan diperoleh melalui cara-cara yang etis dan benar. Keuntungan tidak hanya untuk pemilik, tetapi diinvestasikan kembali ke dalam misi Kerajaan (baik misi pelayanan maupun dampak sosial/komunitas). - 6. (Baru) Dampak Komunitas (Community Impact - Customer Relationship)
Membangun hubungan pelanggan yang tulus dengan tujuan memberkati dan melayani (servant leadership). Tujuan utama adalah dampak sosial dan rohani, bukan sekadar transaksional. - 7. Budaya Memuridkan & Mentransformasi (Kingdom Culture)
Membangun budaya perusahaan yang berbasis Alkitab, di mana karyawan dihargai sebagai anak-anak Allah. Lingkungan kerja menjadi tempat transformasi karakter, kepemimpinan pelayan (servant leadership), dan pemuridan. - 8. (Baru) Panggilan dalam Marketplace (Marketplace Ministry Calling)
Menyadari bahwa bisnis adalah panggilan ibadah (vocational calling). Setiap aktivitas bisnis adalah bentuk ibadah (missio Dei) untuk membawa nilai-nilai surgawi ke dunia kerja. - 9. Proses dengan Integritas (Integral Processes)
Prosedur operasional yang transparan, jujur, dan adil. Mengutamakan integritas di atas sekadar kecepatan atau efisiensi yang merugikan orang lain (menghindari suap, kebohongan, atau kecurangan).
Semuanya 9 komponen ini memastikan bahwa model bisnis dalam kerajaan Allah tidak hanya berkelanjutan secara finansial (sustainable), tetapi juga berdampak kekal (eternal impact).
Tonton Video: Bisnis Dalam Kerajaan Allah
Bersambung ...
Comments
Post a Comment