Bisnis dalam Kerajaan Allah

 BISNIS DALAM KERAJAAN ALLAH


Bisnis dalam Kerajaan Allah adalah Upaya yang dipimpin Tuhan untuk memajukan tujuan-Nya di bumi , bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi menggunakan waktu, bakat, dan uang untuk melayani kebutuhan fisik dan rohani masyarakat, menanamkan nilai-nilai ilahi seperti integritas, keadilan, dan kasih, serta menjadi garam dan terang di dunia. Kerja agar Kerajaan Allah dapat "datang ke bumi" melalui kegiatan ekonomi yang transformatif. 

Karakteristik Utama Bisnis Kerajaan Allah:
  • Tujuan yang Lebih Tinggi:  Kesuksesan diukur dari dampak bagi Kerajaan Allah, bukan sekedar kekayaan, dengan mengutamakan nilai ilahi daripada keuntungan sesaat, mengutip Matius 6:33
  • Dipimpin Tuhan:  Dipimpin oleh Roh Kudus dan didasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab, dengan pertanyaan "Apa yang akan Yesus lakukan?" menjadi pedoman keputusan.
  • Melayani Kebutuhan:  Memenuhi kebutuhan fisik (barang/jasa) dan spiritual orang lain, membawa kehidupan ilahi ke dalam kehidupan manusia.
  • Panggilan Pelayanan:  Bisnis dipandang sebagai panggilan yang sah untuk melayani Tuhan dan sesama, bukan sekedar pekerjaan atau karier.
  • Integritas & Keadilan:  Menciptakan budaya kasih, integritas, dan pelayanan, di mana keuntungan adalah hasil dari berbuat baik, bukan satu-satunya pendorong.
  • Menjadi "Garam & Terang":  Menerapkan iman secara praktis dalam dunia bisnis untuk membawa transformasi dan kebaikan bersama. 
Sederhananya:
Ini adalah tentang menjalankan bisnis dengan hati Tuhan, di mana setiap transaksi, keputusan, dan hasil akhirnya bertujuan untuk memuliakan Allah dan memperluas pengaruh Kerajaan-Nya di dunia nyata. 

Relevansi Nats Alkitab
Nats Alkitab yang relevan dengan bisnis dalam Kerajaan Allah berfokus pada prinsip-prinsip integritas, pelayanan, penatalayanan (stewardship), dan menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama. Berikut adalah beberapa kitab dan ayat kunci yang relevan: 
1. Prinsip Utama & Prioritas (Injil)
  • Matius 6:33: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Ini adalah fondasi utama, di mana bisnis dianggap sebagai sarana untuk memuliakan Allah, bukan sekadar mencari keuntungan pribadi.
  • Kolose 3:23: "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Ayat ini menegaskan bahwa pekerjaan bisnis adalah ibadah kepada Kristus.
  • Matius 25:14-30 (Perumpamaan tentang Talenta): Mengajarkan tentang penatalayanan (stewardship), tanggung jawab, dan kewajiban untuk mengembangkan sumber daya (modal/bakat) yang dipercayakan Tuhan. 
2. Integritas dan Etika Bisnis (Kitab Amsal & Nabi-nabi)
  • Amsal 16:8: "Lebih baik sedikit disertai kebenaran, dari pada banyak keuntungan tetapi tidak adil." Menekankan kejujuran di atas laba besar.
  • Amsal 11:1: "Timbangan curang adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat." Menegaskan keadilan dan kejujuran dalam berdagang.
  • Amsal 21:5: "Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya mengalami kekurangan." Menekankan pentingnya perencanaan dan kerja keras.
  • Yesaya 58:6-10: Berkaitan dengan keadilan sosial dan menggunakan hasil usaha untuk menolong mereka yang membutuhkan. 
3. Kemurahan Hati dan Tujuan Bisnis (Lukas & Perjanjian Lama)
  • Lukas 6:31: "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka." Dikenal sebagai "Aturan Emas" (Golden Rule) yang relevan untuk hubungan bisnis.
  • Ulangan 8:18: "Tetapi harus engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan..." Mengingatkan bahwa kemampuan berbisnis berasal dari Tuhan.
  • Amsal 3:9-10: "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu...". 
Inti Bisnis dalam Kerajaan Allah:
Bisnis Kerajaan Allah (Kingdom Business) adalah bisnis di mana pemimpinnya menyadari kepemilikan Allah atas bisnis tersebut, dibimbing oleh Roh Kudus, dan bertujuan untuk mewujudkan prinsip-prinsip alkitabiah dalam praktiknya, bukan sekadar mencari keuntungan material semata. 

Persiapan Memulai Usaha
Memulai bisnis dalam Kerajaan Allah (Kingdom Business) berarti mengintegrasikan nilai-nilai iman Kristen ke dalam operasional usaha, di mana tujuan utamanya bukan sekadar profit, melainkan memuliakan Tuhan dan menjadi saluran berkat. 
Berikut adalah persiapan yang perlu dilakukan, yang terbagi dalam aspek spiritual dan praktis:
1. Persiapan Spiritual (Fondasi Hati)
  • Meluruskan Niat (Visi Kerajaan): Pastikan motivasi utama adalah untuk membangun Kerajaan Allah, bukan sekadar ambisi pribadi atau keserakahan. Pandanglah bisnis sebagai "liturgi kerja" atau ibadah.
  • Membangun Hubungan dengan Tuhan: Pengusaha harus memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, menjadikan-Nya sebagai pemilik sejati usaha, dan mengandalkan hikmat-Nya.
  • Komitmen Integritas dan Kejujuran: Mempersiapkan hati untuk menjunjung tinggi kejujuran, tidak menggunakan timbangan palsu, dan menghindari penipuan dalam bentuk apa pun.
  • Mengatasi Keterikatan Harta: Siap untuk tidak terikat pada harta duniawi, sadar bahwa bisnis adalah alat untuk menabur perkara kekekalan. 
2. Persiapan Praktis (Manajemen Usaha)
  • Memahami Bisnis yang Akan Dijalani: Mengenal betul jenis usaha yang akan dirintis agar tidak mengecewakan pelanggan (profesionalisme).
  • Perencanaan dengan Prinsip Alkitab: Merencanakan bisnis dengan melibatkan Tuhan melalui doa dan mencari hikmat-Nya dalam setiap keputusan.
  • Pengelolaan Sumber Daya (Stewardship): Mengelola modal, karyawan, dan waktu sebagai titipan Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan.
  • Menetapkan Standar Etika Tinggi: Menentukan bahwa bisnis akan beroperasi dengan prinsip kasih, keadilan, dan tanggung jawab sosial. 
3. Langkah Awal Operasional
  • Memulai dengan Doa dan Penyerahan: Membawa ide bisnis ke dalam doa dan meminta petunjuk arah dari Tuhan.
  • Uji Coba di Lingkungan Sekitar: Melakukan riset atau uji coba produk di lingkungan terdekat.
  • Membangun Komunitas (Networking): Terhubung dengan pengusaha Kristen lainnya untuk saling mendukung dan berbagi pengalaman. 
Inti dari persiapan ini adalah menyeimbangkan antara spiritualitas yang kuat (iman) dan profesionalisme yang tinggi (karya), menjadikan pekerjaan sebagai ibadah kepada Tuhan Kristus. 

Berbisnis Dalam Kerajaan Allah Adalah Ibadah
Apa pun yang kita lakukan dalam berbisnis dalam kerajaan Allah adalah merupakan ibadah, yang nilainya sama dengan "worship", dan melayani sesama.
Pernyataan bahwa berbisnis dalam Kerajaan Allah adalah ibadah, bernilai setara worship (penyembahan), dan wujud melayani sesama adalah konsep yang dikenal sebagai "Business as Mission" (BAM) atau Bisnis Kerajaan.
Dalam pandangan ini, bisnis tidak sekadar mencari keuntungan pribadi, tetapi merupakan panggilan suci untuk memuliakan Tuhan. Berikut penjabaran prinsip tersebut berdasarkan hasil pencarian: 
  • Bisnis sebagai Ibadah (Work as Worship): Apa pun yang dilakukan dalam bisnis, jika dilakukan dengan jujur dan takut akan Tuhan, adalah tindakan penyembahan. Colossians 3:23-24 menegaskan untuk melakukan pekerjaan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan manusia.
  • Melayani Sesama (Service): Bisnis menjadi sarana melayani kebutuhan sesama manusia melalui produk/jasa yang berkualitas, menyediakan lapangan kerja, dan menerapkan etika bisnis yang adil (integritas).
  • Pengelolaan, Bukan Kepemilikan (Stewardship): Pebisnis Kerajaan memandang diri mereka sebagai penatalayan (pengelola) aset yang dipercayakan Allah, bukan pemilik mutlak. Segala keputusan bisnis dibuat dengan mempertimbangkan nilai-nilai kekekalan, bukan hanya laba.
  • Kualitas dan Integritas: Bisnis yang berbasis Kerajaan Allah menekankan kejujuran, menolak kecurangan (timbangan palsu), dan mengutamakan transparansi.
  • Dampak Komunitas: Bisnis digunakan untuk memajukan tujuan Allah, menciptakan dampak positif bagi masyarakat, dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar. 
Dengan demikian, pekerjaan sehari-hari di dunia bisnis diubah menjadi ibadah yang aktif, di mana tempat kerja menjadi ladang pelayanan (mission field). 

Memerintah Bersama Kristus Di Kerajaan Milenium
Apa pun yang kita lakukan dalam mengelola bisnis dalam kerajaan Allah sekarang ini adalah akan menentukan bagaimana kita ikut memerintah bersama Kristus di kerajaan Milenium
Pernyataan bahwa apa yang kita lakukan dalam kerajaan Allah saat ini menentukan bagaimana kita ikut memerintah bersama Kristus di kerajaan Milenium adalah pandangan yang berakar pada teologi eskatologi Kristen (premilenialisme).
Berikut adalah poin-poin kunci terkait hal tersebut:
  • Pemerintahan Bersama (Ruling with Christ): Kitab Wahyu (20:4, 6) menjelaskan bahwa Kristus akan memerintah sebagai Raja selama seribu tahun, dan orang-orang percaya—khususnya mereka yang setia dan martir—akan dibangkitkan dan ikut memerintah bersama-Nya.
  • Kaitan Perbuatan Sekarang dengan Upah Masa Depan: Perbuatan setia, ketaatan, dan pelayanan kepada Tuhan Yesus Kristus saat ini (menggunakan waktu, talenta, harta) akan dihargai. Upah tersebut salah satunya adalah kesempatan untuk memerintah di kerajaan Milenium.
  • Tingkat Pemerintahan Berdasarkan Kesetiaan: Berdasarkan perumpamaan dalam Lukas 19:11-27, tingkat otoritas yang diberikan kepada orang percaya di masa Milenium proporsional dengan kesetiaan mereka dalam melayani Tuhan di masa sekarang.
  • Iman yang Menghasilkan Buah: Ketaatan pada kehendak Bapa di surga adalah syarat masuk dan memerintah di kerajaan tersebut, bukan hanya berseru "Tuhan, Tuhan".
  • Kesetiaan dalam Penderitaan: Ketahanan dalam menghadapi penganiayaan dan tantangan hidup saat ini karena iman akan digantikan dengan kemuliaan dan posisi memerintah bersama Kristus kelak. 
Singkatnya, kehidupan saat ini dianggap sebagai masa persiapan dan "ujian" di mana kesetiaan, pelayanan, dan ketaatan akan menentukan tingkat partisipasi seseorang dalam pemerintahan Kristus yang akan datang. 
Pernyataan bahwa apa pun yang dilakukan dalam berbisnis saat ini akan menentukan bagaimana kita ikut memerintah bersama Kristus di kerajaan Milenium adalah pandangan yang berakar pada konsep penatalayanan (stewardship) dan upah kekal dalam teologi Kristen, khususnya yang berkaitan dengan eskatologi (akhir zaman) dan kerajaan 1.000 tahun. 
Berbisnis dalam konteks Kerajaan Allah berarti menjalankan usaha bukan semata-mata untuk keuntungan duniawi, melainkan sebagai alat untuk membangun Kerajaan-Nya dan memuliakan Tuhan. 
Berikut adalah poin-poin kunci yang menjelaskan hubungan antara bisnis sekarang dan pemerintahan masa depan:
  • Prinsip Penatalayanan (Stewardship): Bisnis dipandang sebagai talenta atau "mina" yang dipercayakan Tuhan. Bagaimana kita mengelola, melipatgandakan, dan menggunakannya untuk tujuan Allah (misi, menolong orang miskin, kebenaran) akan dievaluasi.
  • Upah dan Posisi di Milenium: Alkitab mengajarkan bahwa pemerintahan bersama Kristus (Wahyu 20:4-6) melibatkan tingkat tanggung jawab yang berbeda-beda, yang diberikan berdasarkan kesetiaan kita selama hidup di bumi (perumpamaan tentang mina dalam Lukas 19:15-26). Kesetiaan dalam hal kecil (bisnis) menentukan otoritas yang lebih besar di kerajaan Milenium.
  • Nilai-nilai Kerajaan Allah dalam Bisnis: Menjalankan bisnis dengan integritas, keadilan, kejujuran, dan pelayan (servant leadership) mencerminkan karakter Kristus. Pemimpin bisnis yang melayani (servant leader) mencerminkan cara Kristus memerintah, yang akan diterapkan di masa Milenium.
  • Investasi Kekal: Berbisnis dengan prinsip kerajaan berarti berinvestasi dalam sesuatu yang tidak akan binasa, memastikan bahwa pekerjaan tangan kita hari ini memiliki dampak kekal. 
Singkatnya, bisnis adalah arena latihan dan pengujian untuk memerintah bersama Kristus kelak. Integritas dan kesetiaan kita dalam mengelola "bisnis" hari ini akan dipertanggungjawabkan dan dihargai di masa Milenium. 

Berjaga-jagalah
Pada akhirnya, apa pun yang kita lakukan dalam berbisnis dalam kerajaan Allah sekarang ini, perlu kita berjaga-jaga dalam menyambut kedatangan Yesus Kristus kali kedua ke bumi, seperti yang tertulis dalam kitab Matius 24:42-44
Matius 24:42-44 (TB)  Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."
Pernyataan ini sangat tepat dan Alkitabiah. Dalam konteks iman Kristen, berbisnis atau bekerja bukan hanya soal mencari keuntungan materi, melainkan bagian dari penatalayanan (stewardship) kerajaan Allah.
Berdasarkan Matius 24:42-44, berikut adalah poin-poin penting mengenai apa artinya berjaga-jaga dalam berbisnis menyambut kedatangan Yesus kali kedua:
  • Berjaga-jaga Berarti Siap Sedia (Ready) Setiap Saat: Ayat 44 menegaskan, "...bersiaplah juga kamu, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangka." Ini berarti etika bisnis yang benar (jujur, adil, tidak menipu) harus diterapkan setiap hari, bukan hanya saat mood baik atau saat keadaan aman.
  • Bisnis sebagai Pelayanan (Kingdom Business): Berjaga-jaga berarti menjadikan bisnis sebagai sarana memuliakan Tuhan, mengelola sumber daya dengan tanggung jawab, dan menjadi berkat, sehingga saat Yesus datang, kita didapati sedang melakukan kehendak-Nya.
  • Tidak Terlena oleh Hal Duniawi: Berjaga-jaga juga berarti tidak membiarkan pengejaran keuntungan (materialisme) membutakan kita dari prioritas rohani, yaitu keselamatan dan pengiringan akan Kristus.
  • Setia dalam Perkara Kecil: Mengelola bisnis dengan prinsip Kerajaan Allah (integritas) adalah bentuk kesetiaan yang diharapkan Tuhan saat Ia kembali. 
Secara singkat, "berjaga-jaga" dalam berbisnis adalah hidup dengan kesadaran bahwa bisnis kita adalah milik Tuhan dan kita adalah pengelola-Nya yang harus siap mempertanggungjawabkan perbuatan kita kapan saja Ia kembali. 

Menjalankan Otoritas Kerajaan
Kesiapan (siap sedia) dalam menyambut kedatangan Yesus Kristus kali kedua bukan tentang menebak "waktu" , tetapi tentang "menjalankan otoritas kerajaan" sekarang ini.
Pernyataan ini selaras dengan ajaran teologis Kristen yang menekankan bahwa fokus utama orang percaya bukanlah pada eskatologi spekulatif (menebak tanggal), melainkan pada kesetiaan praktis [1].
Berikut adalah tiga aspek utama mengenai apa artinya "menjalankan otoritas kerajaan" dalam persiapan menyambut kedatangan-Nya yang kedua:
  1. Fokus pada Amanat Agung, Bukan Kalender
    Yesus menegaskan dalam Matius 24:36 bahwa tidak ada yang tahu hari atau jamnya. Menjalankan otoritas kerajaan berarti fokus pada misi menyebarkan Injil dan menjadikan semua bangsa murid-Nya, karena kedatangan-Nya berkaitan erat dengan selesainya kesaksian Injil di seluruh dunia.
  2. Penatalayanan (Stewardship) Talenta dan Tugas
    Melalui Perumpamaan Talenta, Yesus mengajarkan bahwa hamba yang siap adalah mereka yang aktif mengelola apa yang dipercayakan kepada mereka saat tuannya pergi. Menjalankan otoritas berarti menggunakan karunia, profesi, dan sumber daya kita untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah (keadilan, kasih, dan damai sejahtera) di bumi sekarang juga [3].
  3. Hidup dalam Kekudusan yang Aktif
    Kesiapan bukan berarti menunggu secara pasif, melainkan hidup dalam otoritas atas dosa. Menjalankan otoritas kerajaan berarti menunjukkan bahwa Kristus memerintah dalam hidup kita hari ini melalui karakter yang diubah, sehingga saat Dia datang, Dia menemukan kita sedang melakukan kehendak-Nya [2].
     
Singkatnya, kesiapan adalah tentang menjadi saksi yang relevan, bukan pengamat waktu yang spekulatif. Jika Anda ingin mendalami ayat-ayat terkait hal ini, Anda dapat merujuk pada koleksi Alkitab online di Alkitab.mobile.

Gadis-gadis Yang Bijaksana
Dalam menjalankan bisnis dalam kerajaan Allah seumpama lima gadis-gadis yang bijaksana (Matius 25: 13).
Matius 25:13 (TB)  Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."
Menjalankan bisnis dalam Kerajaan Allah, yang diumpamakan seperti lima gadis bijaksana dalam Matius 25:1-13, berarti mengintegrasikan prinsip-prinsip iman, persiapan matang, dan integritas ilahi ke dalam praktik bisnis sehari-hari. Lima gadis bijaksana membawa pelita sekaligus persediaan minyak, yang melambangkan kewaspadaan, visi jangka panjang, dan ketergantungan pada Tuhan. 
Berikut adalah penerapan perumpamaan lima gadis bijaksana dalam dunia bisnis:
1. Persiapan Jangka Panjang (Membawa Minyak Cadangan)
Gadis bijaksana tidak hanya fokus pada pelita (penampilan luar/modal awal), tetapi juga menyediakan minyak cadangan (cadangan strategis/kualitas batiniah). 
  • Aplikasi Bisnis: Tidak hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek. Pengusaha bijaksana membangun cadangan kas (cash reserve), memiliki rencana mitigasi risiko (manajemen krisis), dan terus memperbarui keterampilan. 
2. Manajemen Krisis dan Adaptabilitas (Antisipasi Keterlambatan)
Mempelai pria datang terlambat, dan gadis bijaksana siap menghadapi penundaan tersebut. 
  • Aplikasi Bisnis: Sadar bahwa bisnis memiliki siklus naik-turun. Pebisnis yang bijaksana mempersiapkan diri untuk masa-masa sulit (resesi/penundaan hasil) dengan tidak menghabiskan semua sumber daya di awal. 
3. Integritas dan Kualitas Batiniah (Minyak di Buli-buli)
Minyak sering disimbolkan sebagai Roh Kudus atau karakter yang benar. Pelita yang menyala menunjukkan testimoni, tetapi minyak dalam buli-buli adalah kehidupan pribadi yang intim dengan Tuhan. 
  • Aplikasi Bisnis: Membangun bisnis atas dasar integritas, etika, dan kejujuran, bukan sekadar penampilan luar atau pencitraan. Karakter pengusaha lebih penting daripada sekadar reputasi. 
4. Tanggung Jawab Pribadi (Minyak tidak bisa dibagi)
Gadis bijaksana menolak berbagi minyak karena itu adalah tanggung jawab masing-masing. 
  • Aplikasi Bisnis: Keberhasilan bisnis adalah tanggung jawab pribadi pengusaha dan timnya. Anda tidak bisa mengandalkan kesuksesan orang lain (mengambil jalan pintas atau meniru tanpa kompetensi). 
5. Bertindak dengan Urgensi dan Waspada
Saat seruan "Mempelai datang!" terdengar, mereka segera bertindak.
  • Aplikasi Bisnis: Pengusaha bijaksana mampu membaca tanda-tanda zaman (perubahan pasar, teknologi) dan mengambil keputusan dengan cepat serta tepat (disiplin dan proaktif). 
6. Visi Kekekalan (Berorientasi pada Kerajaan Allah)
Lima gadis bijaksana fokus pada tujuan akhir: masuk ke perjamuan kawin.
  • Aplikasi Bisnis: Menjalankan bisnis sebagai bentuk ibadah (stewardship), di mana tujuan utamanya adalah memuliakan Tuhan dan menjadi berkat, bukan sekadar menumpuk kekayaan materi. 
Dengan demikian, menjalankan bisnis seperti lima gadis bijaksana berarti menjadi pengusaha yang siap sedia, berintegritas, berwawasan jangka panjang, dan bergantung penuh pada pimpinan Tuhan.

Already But Not Yet (Sudah, Tetapi Belum)
Bisnis dalam kerajaan Allah nyata bahwa KerajaanNya sudah ada di bumi, atau Yesus Kristus sudah datang kali kedua ke bumi, hanya saja Yesus Kristus belum memerintah secara total dan sempurna penuh di bumi.
Pernyataan ini selaras dengan konsep teologis Kristen mengenai Kerajaan Allah, khususnya pendekatan "Already but Not Yet" (Sudah, tetapi Belum). 
Berikut adalah penjabaran poin-poin Anda berdasarkan perspektif bisnis Kerajaan Allah (Kingdom Business):
1. Kerajaan Allah Sudah Hadir di Bumi (Sudah)
Bisnis dalam Kerajaan Allah adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai, otoritas, dan kebenaran Kerajaan Allah sudah ada di bumi saat ini. 
  • Manifestasi: Melalui praktik bisnis yang jujur, adil, berintegritas, dan peduli sesama (mengasihi karyawan dan pelanggan), pengusaha Kristen menghadirkan "surga" dalam dunia usaha.
  • Kehadiran Kristus: Kerajaan Allah hadir di bumi melalui diri Yesus dan persekutuan orang percaya yang hidup di bawah otoritas-Nya.
  • Bisnis sebagai Misi: Bisnis bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan sarana untuk melayani Tuhan dan sesama, serta memajukan Kerajaan-Nya. 
2. Yesus Kristus Belum Memerintah Secara Total (Belum)
Meskipun Kerajaan Allah sudah hadir, ia belum terwujud secara sempurna atau penuh (fisik dan total) di bumi. 
  • Menanti Kedatangan Kedua: Yesus belum datang kali kedua untuk menyempurnakan segala sesuatu secara fisik, tetapi Ia telah datang pertama kali untuk meresmikan Kerajaan-Nya.
  • Konflik: Saat ini masih ada kejahatan, ketidakadilan, dan kerusakan, karena pemerintahan Yesus secara penuh baru akan terjadi pada kedatangan-Nya yang kedua kali.
  • Bisnis dalam Proses: Karena itu, bisnis Kerajaan Allah beroperasi di tengah dunia yang belum sepenuhnya tunduk kepada Kristus, namun berupaya mencerminkan kehendak-Nya. 
3. Bisnis Kerajaan Allah (Kingdom Business)
Bisnis dalam Kerajaan Allah adalah kegiatan ekonomi di mana Tuhan diakui sebagai pemilik (partner senior), yang dikelola berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab, bukan semata-mata memaksimalkan laba. 
  • Tujuan: Keuntungan yang didapat digunakan untuk memperluas pekerjaan Tuhan, mendukung pemberitaan Injil, dan membantu yang miskin.
  • Peran Pelaku Bisnis: Menjadi agen perubahan yang menghadirkan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita (Rm 14:17) di tempat kerja. 
Kesimpulan:
Bisnis dalam Kerajaan Allah adalah tanda nyata kehadiran Kerajaan Allah saat ini (Already), yang menantikan pemerintahan sempurna Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua kali (Not Yet), di mana saat itu seluruh ciptaan akan tunduk sepenuhnya kepada-Nya. 

Kingdompreneur Yang Berdampak
Secara sadar kita aktif dan produktif (bukan pasif dan bermalas malasan), mengelola, mengembangkan, me-multiplikasi semua apa yang dipercayakan Tuhan pada kita dalam menjalankan bisnis dalam kerajaan Allah.
Pernyataan ini menggambarkan prinsip inti dari Kingdom Business (Bisnis Kerajaan Allah), di mana seorang pengusaha atau profesional Kristen tidak hanya mengejar keuntungan materi, tetapi bertindak sebagai penatalayan (steward) yang bertanggung jawab atas sumber daya yang Tuhan percayakan. Konsep ini menekankan pada produktivitas aktif dan pengelolaan yang bijaksana. 
Berikut adalah penjabaran dari poin-poin yang Anda sebutkan berdasarkan perspektif alkitabiah:
  • Secara Sadar Aktif dan Produktif (Bukan Pasif/Malas):
    • Bisnis adalah panggilan (vocational calling) untuk melayani Tuhan dan sesama, bukan sekadar karier.
    • Prinsipnya adalah bekerja dengan segenap kekuatan (Kolose 3:23-24) dan menghindari kemalasan, karena bekerja adalah ibadah.
    • Aktif dalam inovasi dan perbaikan strategi bisnis harian, bukan pasif menunggu keajaiban.
  • Mengelola dan Mengembangkan (Stewardship):
    • Mengelola talenta, modal, waktu, dan jaringan sebagai amanah Tuhan, bukan milik pribadi mutlak.
    • Konsep stewardship berarti fokus pada hasil yang benar (integritas) dan dampak positif bagi komunitas, bukan hanya profit maksimal.
    • Mengembangkan potensi bisnis melalui hikmat ilahi (divine wisdom).
  • Me-multiplikasi (Perkalian):
    • Berdasarkan perumpamaan talenta (Matius 25:14-30), Tuhan menginginkan adanya pertumbuhan dan multiplikasi dari apa yang dipercayakan.
    • Multiplikasi berarti melipatgandakan dampak: keuntungan bisnis digunakan untuk perluasan kerajaan Allah, mendukung pelayanan, dan memberkati sesama.
  • Bisnis dalam Kerajaan Allah (Kingdom Business):
    • Bisnis dijalankan dengan nilai-nilai Kerajaan: kejujuran, keadilan, integritas, dan kasih.
    • Menjadikan tempat kerja sebagai ladang pelayanan (marketplace ministry).
    • Tujuannya adalah menjadikan bisnis sebagai sarana untuk memuliakan nama Tuhan. 
Secara ringkas, ini adalah konsep menjadi Kingdompreneur yang berdampak, di mana produktivitas tinggi didasarkan pada keintiman dengan Tuhan dan ketaatan pada prinsip-prinsip Firman-Nya. 



Comments

Popular posts from this blog

Visualisasi Bait Suci (Bait Allah) Ke-3 Dan Mesianik Di Jerusalem

Semangat Roh Kenabian Elia Mengkristalisasi Pada Dua Saksi Terakhir

MEMBANGUN RUMAH BERSIFAT ROHANI DI LAHAN SEMPIT