AKU ADALAH AKU
AKU ADALAH AKU
Di dalam kamus Alkitab bisa ditemukan kata "Tuhan Allah" yang dimaksud dalam kitab Taurat adalah "Yahweh".
Utuk memahami dan mengerti pribadi Allah adalah dengan Mengenal, Mengasihi, dan Taat kepadaNya melalui karya/pekerjaan dan karakter/watak Tuhan Allah.
Tuhan Allah telah memperkenalkan diriNya kepada bangsa Israel melalui Nabi Musa bahwa Dia adalah AKU ADALAH AKU.
Keluaran 3:14 (TB) Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: "Beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."
Tuhan memperkenalkan diri sebagai "AKU ADALAH AKU" (bahasa Ibrani: Ehyeh asher Ehyeh ) kepada Musa di semak yang menyala Untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan yang kekal, mandiri, berdaulat, dan setia, yang ada dari kekal sampai kekal, serta akan menjadi apa pun yang membutuhkan umat-Nya dalam setiap situasi, mengungkapkan sifat-Nya yang tidak terbatas dan dapat membantu untuk membebaskan Israel dari penutup Mesir. Ini adalah pengenalan nama pribadiNya "Yahweh" yang mendalam, melampaui gelar seperti Elohim , untuk membangun kepercayaan dan memberikan dasar otoritas bagi Musa.
Alasan Tuhan memperkenalkan diri sebagai "AKU ADALAH AKU":
- Menunjukkan Sifat Kekal dan Mandiri: Nama ini berarti Tuhan telah, sedang, dan akan selalu ada, sumber keberadaan-Nya berasal dari diri-Nya sendiri, bukan dari ciptaan lain.
- Mengungkapkan Kedaulatan dan Kehadiran: Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas segalanya, yang selalu hadir dan setia untuk memenuhi janji-Nya, seperti yang digambarkan dalam semak yang menyala tetapi tidak terbakar.
- Menegaskan Otoritas Musa: Nama ini memberikan Musa otoritas untuk berbicara kepada bangsa Israel dan Firaun, karena Musa membawa nama Tuhan yang mengutusnya, membuktikan bahwa Tuhan sendiri yang mengutusnya.
- Menjelaskan Kebutuhan Umat-Nya: Terjemahan lain dari "Ehyeh asher Ehyeh" adalah "Aku akan menjadi apa pun yang Aku inginkan," menunjukkan bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan Israel dalam masa perjanjian mereka, baik sebagai Pembebas, Penolong, atau Sumber kekuatan.
- Membedakan Diri dari Dewa Lain: Ini adalah pengenalan nama pribadi yang berbeda dari gelar umum seperti Elohim , yang dimiliki banyak dewa, menegaskan keunikan-Nya sebagai Tuhan Israel yang Mahakuasa dan tidak terbatas.
Singkatnya, “AKU ADALAH AKU” adalah landasan identitas Tuhan yang abadi dan cukup bagi diri-Nya sendiri, yang menjadi dasar kepercayaan dan janji-Nya kepada umat pilihan-Nya.
Manusia berbeda dengan Tuhan, pada manusia,
jika seseorang bertanya kepada orang lain
"Siapakah kamu?",
lalu orang tersebut menjawab:
"Aku adalah aku", ini sah-sah saja diperbolehkan.
Jawaban yang dilontarkan "Aku adalah aku", bila
dalam konteks situasi santai, akan ditanggapi dengan
balasan seperti "Tentu saja, tapi 'aku' yang kamu maksud yang mana? Apakah 'aku' yang lapar atau 'aku' yang sedang rajin?"
Namun bila dalam situasi serius, akan ditanggapi denganbalasan seperti:
"Apa yang membuat versi 'aku' yang kamu lontarkan berbeda dari orang lain?"
Namun bila jawaban "Aku adalah aku" ini adalah Penolakan, maka kita disarankan agar memberikan ruang dan jangan terlalu memaksakan untuk mengetahui identitas aslinya.
Singkatnya, jawaban orang tersebut adalah sebuah tautologi (pernyataan yang benar secara logika namun tidak memberikan informasi baru) yang digunakan untuk menegaskan kemandirian identitas.
Pertanyaan "Siapakah kamu?" yang dijawab dengan "Aku adalah aku" merupakan bentuk komunikasi yang memiliki beberapa lapisan makna, tergantung pada konteks situasinya:
1. Makna Filosofis (Eksistensialisme)
Jawaban ini menunjukkan bahwa seseorang mendefinisikan dirinya bukan berdasarkan label sosial (nama, pekerjaan, atau status), melainkan berdasarkan keberadaan dirinya sendiri. Ini adalah pernyataan tentang otentisitas—bahwa jati diri mereka tidak bisa disederhanakan menjadi kata-kata atau peran tertentu.
2. Penegasan Batas Privasi
Secara praktis, jawaban ini sering kali merupakan cara halus (atau terkadang tegas) untuk mengatakan bahwa orang tersebut tidak ingin dikenal lebih jauh. Ini adalah bentuk pertahanan diri untuk menjaga jarak atau misteri terhadap orang asing.
3. Kepercayaan Diri yang Tinggi
Orang yang menjawab demikian mungkin merasa sudah cukup dikenal atau merasa identitasnya sangat kuat sehingga tidak perlu penjelasan tambahan. Mereka merasa tindakan dan kehadiran mereka sudah cukup menjawab siapa mereka tanpa perlu label.
4. Sisi Literasi dan Populer
Dalam budaya populer, jawaban ini sering muncul dalam dialog film atau sastra untuk menciptakan kesan karakter yang misterius, bijak, atau berkuasa. Contohnya, kemiripan dengan ungkapan filosofis "I am that I am".
Juga pertanyaan "Siapakah kamu?" yang dijawab dengan "Aku adalah aku" merupakan bentuk komunikasi yang memiliki makna mendalam dari berbagai sudut pandang:
1. Sudut Pandang Filosofis (Eksistensialisme)
Jawaban ini menunjukkan bahwa identitas seseorang tidak bisa dibatasi oleh label sosial, pekerjaan, atau status [1]. Orang tersebut menegaskan bahwa dirinya adalah entitas yang unik dan mandiri yang tidak dapat didefinisikan oleh kata-kata orang lain. Ini adalah bentuk penegasan diri yang murni.
2. Sudut Pandang Psikologis
Secara psikologis, jawaban ini bisa mengindikasikan beberapa hal:
- Kepercayaan Diri yang Tinggi: Orang tersebut sudah selesai dengan pencarian jati dirinya dan tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada orang lain.
- Privasi/Defensif: Bisa juga menjadi cara halus untuk menjaga jarak atau menolak memberikan informasi lebih lanjut kepada si penanya.
3. Sudut Pandang Spiritual/Teologis
Dalam banyak tradisi spiritual, kalimat ini mirip dengan pernyataan Self-existence. Misalnya, dalam tradisi Ibrahimi, frasa "Aku adalah Aku" (I Am That I Am) merupakan pernyataan tentang keberadaan yang mutlak dan tidak bergantung pada hal lain.
4. Dampak dalam Percakapan
Tergantung pada nada bicaranya, jawaban ini bisa dianggap sebagai:
- Misterius: Membuat orang lain penasaran tentang siapa dia sebenarnya.
- Bijak: Terkesan seperti jawaban seorang guru atau filsuf.
- Kurang Sopan: Jika diucapkan dalam konteks formal (seperti wawancara kerja), jawaban ini bisa dianggap tidak kooperatif atau arogan.
Kesimpulannya: Jawaban tersebut adalah pernyataan tentang otonomi diri. Seseorang yang menjawab demikian biasanya ingin menyampaikan bahwa identitas mereka melampaui sekadar nama atau jabatan, melainkan tentang keberadaan mereka saat ini dan di sini.
Comments
Post a Comment